Lagi.... ini mengenai sebuah pembelajaran...
Semoga teman-teman ga bosen yaa baca postingan saya, hihihi mohon dimaklum, saya memang sedang dalam taraf menyesuaikan dengan kondisi pembelajaran yang sepenuhnya melibatkan segala pikiran, rasa dan tindakan saya. Bahkan ketika jemari ini mampu menuangkannya dalam coretan sederhana, rasa ini hanya mampu menahannya dalam draft saja untuk beberapa hari. hasilnya...? tak ada tindakan apa-apa.
Namun setelah saya membacanya lagi, saya menelaahnya lagi, saya akan mempublish coretan saya ini, tentang sebuah rasa ingin tahu yang begitu besar, bahkan telah menimbulkan simbol tanda tanya terbesar dalam pikiran saya. Daripada terus menjadi beban pikiran saya, lebih baik saya ungkapkan. Dan jika tulisan ini mampu tersampaikan, hanya kuasa Allah lah yeng mengantarkannya kepadamu.
============
Dear You...
============
Dear You...
Aku tak kuasa... ketika ada sesuatu yang membatasi ruang gerak antara kita, entah apa yang menjadi penyebab utamanya sehingga kamu mampu begitu menutup hatimu yang terdalam. Aku sedih? yaa... tentunya... bagiku hal seperti ini sungguh tidak membuat nyaman. Ada kalanya suatu hal terjadi di luar batas kemampuan kita, dan jika itu terjadi... siapa yang dapat dipersalahkan? Kamu mau menyalahkanku? silakan... katakan apa salahku. Bukankan itu lebih bijak? ini persoalan aku dan kamu, tak perlu kita mengajak hati-hati yan tulus menjadi penuh prasangka dengan apa yang menimpa kita. Tunjukkan kesalahanku, Aku akan meminta maaf. Namun tak pula dalam hal ini maaf menjadi suatu kata yang biasa bagimu. Ahh... aku sungguh tak mau menjudge-mu dengan prasangkaku, aku tak mau berfikir bahwa kau memusuhiku, karena aku yakin... kamu orang baik, yaa.. aku tau karena aku mengenalmu. Bahkan sampai pada saat kamu membatasi segala komunikasi antara kita, aku tak menyerah... aku ingin tau, dan yakin... bahwa kamu bisa membuka hatimu yang tulus. Jika sampai saat ini kau masih menututpnya dengan rapat, itu bukan dirimu sayang... itu hanya sisi gelap dalam dirimu. Apakah kamu menyadarinya?
Kali ini, aku sudah menyerahkan sepenuhnya pada Sang Ilahi... Jika kamu mau membuka pintu hatimu, maka Allah pula lah yang akan membukakannya, namun jika kau akan tetap menutupnya rapat-rapat, tak apa... aku akan berterima kasih sekali padamu. Yaa... aku berterima kasih karena kamu telah mengajarkanku satu hal yang sangat mendasar, tentang sebuah kesabaran. Terima kasih kamu telah mengajarkanku tentang bagaimana harus tulus dalam memberi tanpa syarat. Terima kasih karena kamu telah memberikan aku pandangan lebih indah tentang hidup ini, terimakasih... karena kamu... aku belajar.
Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway "Aku Sayang Saudaraku" yang diselenggarakan oleh Susindra
Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway "Aku Sayang Saudaraku" yang diselenggarakan oleh Susindra
